Rabu, 13 Maret 2013

BUDAYA, ADAT & ERA TELEKOMUNIKASI 1

PESTA DATUK - Seminggu kemarin gw berada di Bukittinggi, Sumatra Barat, untuk menjalani sesuatu yang gak pernah gw bayangin sebelumnya. Gw diangkat jadi DATUK. Dalam adat minang, seorang kakek (ayah dari ibu atau bapak kita) biasa dipanggil Datuk. Namun Datuk yang ini berbeda, Datuk yang ini adalah sebutan pagi pemimpin adat. Gw sendiri bingung mau jelasin kaya gimana, tapi bagi Anda yang warga minang atau keturunan minang, pasti mengerti dengan adat istiadat dan aturan main ini.

Singkat nya, di Bukittinggi ada beberapa suku. Gw mewakili suku keluarga gw, yaitu suku Jambak. Nah, ceritanya gw diangkat menjadi Kepala Suku Jambak. Apa fungsinya? Katanya sih, sebagai penjaga kesatuan anggotan keluarga besar, memecahkan kalau ada permasalahan, tempat mengadu dan bercerita, dan hal - hal yang berkaitan dengan hubungan antar masyarakat lainnya. Tapi bukan itu poin nya. Poin nya adalah gw menemukan beberapa hal "hebat" dan "unik" yang gw baru tau.

WARISAN ASLI & WARISAN HARTA PUSAKA TINGGI

Di ajaran islam, waris sudah diatur sedemikian detailnya. Laki-laki dapat 2 bagian, sementara perempuan 1 bagian. Tapi itu untuk harta yang diperoleh oleh si bapak dan si ibu. Lain dengan Harta yang diturunkan dari nenek moyang generasi ke generasi, yang oleh orang minang disebut dengan Harta Pusaka Tinggi. Disini anak perempuan lah yang punya kuasa. Tidak boleh dijual. Kecuali, jika kondisi benar-benar susah, dan tidak ada harta lain, maka boleh dijual setelah ada kesepakatan antar anggota keluarga lainnya. Nah, Jadi, selama gw di bukittinggi kita sekeluarga tinggal di rumah harta pusaka tinggi itu.

Ada cerita unik dari om gw yang mau beli tanah di daerah padang by pass. Proses nya agak lama, karena notaris sendiri pun menyarankan untuk mengumpulkan ke 20 orang hak waris atas tanah pusaka tinggi yang akan dijual itu. Kalau satu aja dari 20 orang itu tidak setuju, tidak akan pernah berpindah kepemilikan tanah itu.

Jadi ketika gw tanya ke nenek gw di dalam perjalanan dari bandara ke rumah di buktinggi tentang NJOP tanah disitu, nenek gw bilang gak tau. Karena tanah itu gak pernah bisa dijual. Lucu ya. Gw sempet berdebat sama nenek gw. Gw bilang "Tanah gak boleh dijual, investor ga boleh masuk, tapi anak mudannya pada merantau semua.. Trus yang ngebangun kota ini siapa? (hehehehe)

bersambung...

Minggu, 03 Maret 2013

Hati-Hati Dengan Demam Entrepreneur

Dear All,

Ada satu hal yang mengusik pikiran dan perasaan saya akhir-akhir ini. Tentang "booming"nya demam entrepreneur di bangsa ini. Lho, bukannya itu baik?? iya, baik..sangat baik. Tapi ada sedikit hal yang mengganggu. Apa itu? Yaitu, dimana saat ini, semua orang dengan mudahnya bicara tentang entrepreneur. Ditambah dengan merebaknya sosial media saat ini, semua orang tiba-tiba muncul menjadi "mentor" bisnis, memberikan tips-tips, memberikan seminar tentang bisnis, dan lain semacamnya. Biasanya, semua dimulai di sosial media. Ketika sudah mendapatkan "market" yang tepat, barulah dibuatkan acara off airnya. Dengan tema-tema yang berbau bisnis, siapa yang tidak tergiur saat ini

Tidak ada yang salah dengan itu memang. Masalahnya, apakah mereka yang berbicara tentang bisnis itu, memang pernah benar-benar mendirikan, menjalankan, dan mengembankan sebuah bisnis? Atau mereka hanya mengatakan apa yang mereka "pernah baca", "pernah dengar", atau "pernah tau"?

Seorang MOTIVATOR memiliki bisnis karena mereka punya ribuan orang yang setia datang ke seminar motivasinya, dan kemudian meminta "branding" untuk bisnisnya dengan si motivator yang terkenal. Apa dia berarti punya ilmu bisnis?

Bahkan ada yang terang-terang mengaku sebagai "mentor bisnis" namun tidak punya bisnis satupun, kecuali bisnis " sekolah bisnis" nya itu sendiri. Aneh...Saya pun sempat bingung dengan kondisi seperti ini. Takut saya salah dalam mengambil ilmu. Sampai pada akhirnya,sahabat saya yang juga pemenang Wirauaha Muda Mandiri yang berbisnis property pernah mengingatkan saya, "Hati-Hati rid. Bisnis emang butuh mentor. Tapi jangan sampe salah pilih mentor. Seorang pebisnis sejati, pasti bisnisnya juga terkenal. Bukan hanya sekedar nama dia nya aja. Dan satu lagi, ketika seorang pebisnis sejati diundang untuk berbagi, dia hanya akan menceritakan pengalamannya dalam membangun bisnis. Dan jarang sekali yang "meminta fee" atas ceritanya itu. Lain dengan motivator-motivator yang memang dibayar untuk ngomong".

Dan saya pun punya teori sendiri yang saya amati. Seorang pebisnis sejati, selalu punya Buku (biography/kisah sukses) yang ditulis orang lain. Sedangkan motivator atau profesi lain nya itu juga punya buku, namun ditulis oleh dirinya sendiri...:)

wassalam