Masih ingat dengan salah satu sahabat saya yang saya ceritakan pada posting saya sebelumnya, yang sebelumnya bekerja di LawFirm dan kemudian resign. Ada sedikit cerita menarik tentang si sahabat yang sepertinya seru untuk diceritakan. Kita sebut saja namanya A. Sesaat sebelum si A resign, dia datang kepada saya dan menceritakan cerita ini. Dan cerita inilah yang kemudian mengubah pemikiran dia untuk berani terjun membuat bisnis sendiri.
Saat itu, si A mendatangi rumah saya. Dan bercerita pengalamannya menghadiri pertemuan dengan klien LawFirmnya di daerah lampung. Sang klien adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak peternakan dan bisnis lainnya. Saat itu, sang klien memiliki permasalahan dalam hal yang berkaitan dengan hukum, sehingga si klien itu membayar kantor LawFirm sahabat saya tersebut.
Mulailah si A bercerita, " Gila rid, rumahnya mewah banget. Banyak hewan ternak, mobil, dan segala fasilitas mewah lainnya. Yang bikin gw bingung, kok masalah hukum sesepele ini dia ga ngerti dan harus ngebayar kita. Disitu gw mikir rid, kenapa gw gak jadi si orang itu, yang tinggal bayar lawfirm untuk menyelesaikan masalah hukum dia? kenapa gw harus jadi orang yang dia bayar itu? padahal secara ilmu hukum, gw yakin gw lebih pinter dari dia. tapi kok keliatannya dia kaya dan sukses banget ya"
Bagi sebagian orang, menjadi orang pintar dengan pendidikan yang sangat tinggi adalah hal yang sangat penting. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika kita berniat untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya HANYA UNTUK MENDAPATKAN PEKERJAAN DENGAN GAJI YANG TINGGI. Coba kita ingat-ingat lagi, dan memang inilah budaya bangsa ini yang masih kental, bahwa ketika kita sekolah, dan mengambil jurusan kuliah, pasti pertimbangan utamanya adalah jurusan yang gampang nyari kerja dan dibayar dengan gaji tinggi.
Lalu bagaimana dengan si klien yang kaya raya itu. Dia cukup mempunyai keberanian, visi yang jauh, dan strategy untuk menjalankan bisnisnya. Dan selanjutnya, dia tinggal membayar orang-orang profesional yang ahli dibidangnya masing-masing, untuk mempermudah bisnisnya itu.
Terkesan tidak adil memang. Tapi itulah kenyataan. Kebanyakan orang pintar tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko dan meninggalkan zona nyaman. Itu mengapa mereka biasanya hanya selalu berlindung dibalik langkah orang lain. Tapi, sebagaimana konsep investasi, high risk high return, ya si profesional itu juga tidak mendapatkan sebesar si risk taker.
Bukan rahasia umum lagi jika beberapa orang terkaya di dunia bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya. Bukan bermaksud mengecilkan fungsi pendidikan. Pendidikan tetap sangat penting. Tapi bagaimana akhirnya menggunakan pendidikan itu lah yang lebih penting.
Bravo..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar