Selasa, 03 Juli 2012

Tidak Mungkin Membuat Semuanya Senang

Ada hal yang cukup unik di dunia ini. Mungkin beberapa orang, termasuk saya dulu, mencoba untuk membuat semua orang senang sama kita. Namun, semakin kesini, sepertinya pandangan itu mulai berubah. Ini bukan berkaitan dengan bahwa kita harus berbuat baik ke semua orang. Kalau itu, mutlak. Namun lebih ke bahwa kita tidak bisa membuat keputusan yang menyenangkan semua orang.

Kenyataan ini mulai terpikirkan ketika saya menghadiri launching buku pengusaha nasional yang berada di daftar orang terkaya di Indonesia, Pak Chairul Tanjung (CT). Betapa saya mengagumi sosok pengusaha yang satu ini. Dan merupakan kesempatan emas bagi saya untuk bisa bertatap muka langsung dengan beliau. Karena, mungkin jalan menjadi pengusaha sedang saya jalani saat ini. Dan saya mengalami betul betapa dahsyatnya "peperangan" untuk hidup di dunia usaha. Sehingga saya ingin sekali mendengar kisah dan pemikiran CT dalam membangun bisnisnya.

Walaupun sudah banyak buku tentang kisah sukses beliau yang saya baca, namun kesempatan ini tetap tak bisa dilewatkan. Acara pun selesai. Buku "Chairul Tanjung si Anak Singkong" pun sudah ditandatangani lengkap dengan kalimat penyemangat buat saya di bagian depan. Ketika datang giliran saya book signing, saya duduk disamping beliau, dan bertanya." Pak, apa setiap pengusaha kalau mau besar harus terlibat di proyek pemerintah?"..Pak CT yang saat itu sedang menulis sesuatu di buku saya pun kemudian terdiam, dan mengalihkan mukanya menatap saya. Diam sejenak dan kemudian berkata, "Gak harus,Mas".

Banyak selentingan yang muncul ketika acara itu berlangsung. Ada yang bilang, "Wah, CT pasti mau nyalon jadi RI-1 nih, makanya buat buku". Memang, membuat buku otobiography lumrah dilakukan bagi tokoh yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah ataupun presiden. Saya sendiri sangat membenci pengusaha yang kemudian masuk ke dunia politik. Biarpun begitu, saya tetap harus melihat dari kesuksesannya sebagai pebisnis.

Pulang ke rumah setelah itu, saya membaca time line twitter salah seorang karyawan yang dipecat dari Trans TV. Isi time line itu menunjukan pandangan dia bahwa CT merupakan seorang kapitalis yang tidak punya hati nurani. ketika media online men-tweet: "1 orang CT bisa mempekerjakan 1000 karyawan", dia pun membalas, "1 CT bisa memecat 45 karyawan tanpa sebab"...sampe tulisan akhirnya berbunyi " Lost respect, boss"

Seketika kekaguman saya terhadap seorang CT pun terganggu. Namun setelah saya amati, memang dunia selalu seperti ini. Ternyata, bahkan tokoh sehebat apapun tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita masih ingat ketika BJ Habibie yang segitu cerdasnya masih dihujat massa karna dianggap tetap saja antek soeharto. Atau ketika sudono saliem (Om Liem) yang meninggal dunia, muncul artikel yang menerangkan Om Liem telah mengubah mentalitas bangsa Indonesia seperti Indomie, yaitu mental instan. Dahlan iskan yang melakukan gebrakan ekstrem demi rakyat pun masih juga dicibir sebagai pencitraan menuju RI-1 2014 nanti.

Sandiaga Uno yang memang terkenal sebagai pengusaha muda yang agamis pun tak luput jadi perbincangan di twitter mengenai keterlibatan beliau di kasus korupsi tertentu. Dan masih banyak lagi contoh nyata tentang tokoh-tokoh lainnya.

Akhirnya saya menyadari, mungkin semua itu memang benar terjadi. Mungkin memang seperti itu perasaan orang-orang yang berkomentar negatif. Namun saya tetap harus melihat dari sisi yang lebih besar. Tentunya saya lebih melihat bagaimana mereka bisa membantu negara mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan ratusan ribu karyawan, walaupun mungkin harus memecat beberapa puluh karyawan. Menyetor pajak segitu besarnya ke negara, walaupun pun mungkin dianggap mematikan beberapa usaha kecil. Membawa brand produk Indonesia ke mancanegara,walaupun hanya sebuah makanan instan. Dan membuat Tol menjadi lancar seketika,walaupun membuat rugi instansi terkait.

Dan, yang saya amati, benang merah tokoh itu yang membuat mereka tetap maju adalah, bahwa mereka punya pendirian. Tidak mendengarkan kata semua orang. Selama mereka yakin sama yang mereka kerjakan itu baik. Dan pada akhirnya, mereka berkata, "Cukup Tuhan yang tau isi hati saya"

wallahu alam.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar