Hari ini saya mengalami kejadian yang sangat menyeramkan, aneh, sekaligus menakjubkan. Begini ceritanya. Awal tahun 2012 yang lalu kami pindah rumah, walau hanya beda gang. Orang tua kami berpikir keluarga sudah semakin besar, sehingga rumah yang lama sudah tidak muat jika semua anak-anaknya berkumpul. Rumah ini tergolong unik desainnya. Beberapa ukiran seperti pada pondasi di balkon atas, dan ukiran untuk tempat bergantungnya lampu. Semua eternit memakai gypsum sebagai bahannya.
Dirumah ini tinggal orang tua saya, adik-adik saya, beserta istri dan anak saya (masih numpang ortu nih...hehe). Hari kamis kemarin (6/9/12), ibu, bapak, dan dua orang adik saya pergi ke padang. Ada kawinan saudara disana. Sehingga, dirumah ini tinggal saya, istri, bayi kami yang masih berumur 3 minggu, dan 2 orang ART. Oh iya, ada ibu mertua juga yang nemenin istri disini. Tapi sejak hari sabtu kemarin, istri dan ibu mertua kembali ke rumah mertua, karna ada kondangan. Jadilah tinggal saya dan dua orang ART.
Biasanya saya tidur di kamar atas, tapi karena tidak ada orang, sekalian buat jaga-jaga, saya tidur di kamar orang tua di lantai bawah. Nah, disinilah segala sesuatunya dimulai. Di malam harinya, saya melihat eternit di kamar orang tua saya ada retakan cukup jelas. Tapi saya pikir itu retakan sudah dari lama, sehingga tidak terlalu saya pedulikan. Dan terlelaplah saya pada pukul 02.30.
Lalu, pada pukul 07.00 saya dibangunkan dengan cara yang sangat tidak enak. Seketika terdengar retakan hebat, dan tubuh saya merasakan ada benda benda berjatuhan kecil. Ketika saya membuka mata karna terganggu oleh suara seram dan serpihan gypsum, ukiran gypsum tempat bergantung lampu sudah mulai terlepas. Gelap. Lampu padam karna ikut jatuh. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Yang saya lakukan saat itu hanya berteriak keras dan melompat dari tempat tidur. Pintu yang saya kunci dari dalam cukup membuat sedikit panik karna harus meraba letak kunci dan membukanya. Selain itu, pintu yang arah bukanya kedalam itu juga tertahan oleh TV yang jatuh tertimpa gypsum, juga puing-puing qypsum yang mulai banyak. Saya pun sedikit mengeluarkan tenaga untuk memaksa pintu itu mendorong TV dan tumpukan puing gypsum. 2 orang ART saya sudah menunggu dengan panik di depan kamar, dan mengucap "Masya Allah" ketika melihat bentuk kamar itu.
Sekarang, coba liat foto yang ada di kiri atas artikel ini. Itu adalah satu dari beberapa foto yang saya ambil beberapa saat setelah kejadian. Bayangkan ya, posisi tidur saya berada di sebelah kiri kasur, yg dekat ke lantai dan lemari. Dengan posisi kepala disebelah kiri gambar, persis dibagian potongan gypsum yang berwarna putih itu.Kondisi seperti foto itu pun sudah agak mendingan. Karna beberapa puing sudah diangkat oleh supir nenek saya yang langsung saya telpon segera setelah kejadian.
Pertanyaannya, menurut Anda semua, kira-kira luka seperti apa yang saya alami? Ketika Anda belum bisa berfikir jernih sesaat setelah bangun tidur, kondisi pintu terkunci, gelap, dan badan Anda tepat berada dibawah ukiran tempat lampu yang mungkin beratnya mencapai 15kg lebih??? Dan semua serpihan itu jatuh dengan sempurna memenuhi kamar yang sekilas tampak seperti bangunan habis kena gempa, ketika saya masih didalamnya.
Ajaib. Saya tidak mengalami luka apapun. Hanya lecet sedikit di jari kelingking tangan kanan, dan rambut serta baju yang dipenuhi serbuk runtuhan gypsum. Ketika kembali melihat keadaaan kamar dan juga foto-foto yang saya ambil, saya tidak habis berpikir bagaimana caranya saya bisa tidak terluka sedikitpun.
Oke. Pertanyaannya adalah begini. Dan ini juga yang masih saya pikirkan sampai saya menulis artikel ini. Bagaimana jika ibu dan bapak saya yang sedang tidur disitu?? Dan yang lebih seram, bagaimana jika Kaesar Ali Rasyidi, anak saya yang masih berumur 3 minggu, sedang ditidurkan disitu (yang sebelumnya sangat sering sekali)??
Saya termasuk orang yang susah sekali dibangunin. Jangankan suara, sentuhan orang-orang yang membangunkan saya saja belum tentu berhasil. Lalu kenapa saya bisa terbangun tepat pada waktunya, hingga bisa sedikit membalikan badan untuk melindungi wajah dan kemudian langsung melompat?? Dan yang terakhir, kenapa saya bisa tidak terluka sama sekali, padahal kata supir nenek saya ada yang meninggal karna kejadian yang sama??
Mungkin hampir semua orang pernah mengalami kejadian yang membuat mereka berkata..."untung aja bla..bla...", "Coba kalau..bla..bla..", yang seakan-akan menunjukan sebuah kebetulan atau keberuntungan.
Tapi dengan pengalaman dan ilmu yang saya pelajari, saya yakin "bahkan tidak ada sepucuk daun pun yang jatuh tidak atas ijin - Nya"
Think...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar