Senin, 10 September 2012

Sebuah Keajaiban, atau hanya kebetulan??

Hari ini saya mengalami kejadian yang sangat menyeramkan, aneh, sekaligus menakjubkan. Begini ceritanya. Awal tahun 2012 yang lalu kami pindah rumah, walau hanya beda gang. Orang tua kami berpikir keluarga sudah semakin besar, sehingga rumah yang lama sudah tidak muat jika semua anak-anaknya berkumpul. Rumah ini tergolong unik desainnya. Beberapa ukiran seperti pada pondasi di balkon atas, dan ukiran untuk tempat bergantungnya lampu. Semua eternit memakai gypsum sebagai bahannya.

Dirumah ini tinggal orang tua saya, adik-adik saya, beserta istri dan anak saya (masih numpang ortu nih...hehe). Hari kamis kemarin (6/9/12), ibu, bapak, dan dua orang adik saya pergi ke padang. Ada kawinan saudara disana. Sehingga, dirumah ini tinggal saya, istri, bayi kami yang masih berumur 3 minggu, dan 2 orang ART. Oh iya, ada ibu mertua juga yang nemenin istri disini. Tapi sejak hari sabtu kemarin, istri dan ibu mertua kembali ke rumah mertua, karna ada kondangan. Jadilah tinggal saya dan dua orang ART.

Biasanya saya tidur di kamar atas, tapi karena tidak ada orang, sekalian buat jaga-jaga, saya tidur di kamar orang tua di lantai bawah. Nah, disinilah segala sesuatunya dimulai. Di malam harinya, saya melihat eternit di kamar orang tua saya ada retakan cukup jelas. Tapi saya pikir itu retakan sudah dari lama, sehingga tidak terlalu saya pedulikan. Dan terlelaplah saya pada pukul 02.30.

Lalu, pada pukul 07.00 saya dibangunkan dengan cara yang sangat tidak enak. Seketika terdengar retakan hebat, dan tubuh saya merasakan ada benda benda berjatuhan kecil. Ketika saya membuka mata karna terganggu oleh suara seram dan serpihan gypsum, ukiran gypsum tempat bergantung lampu sudah mulai terlepas. Gelap. Lampu padam karna ikut jatuh. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Yang saya lakukan saat itu hanya berteriak keras dan melompat dari tempat tidur. Pintu yang saya kunci dari dalam cukup membuat sedikit panik karna harus meraba letak kunci dan membukanya. Selain itu, pintu yang arah bukanya kedalam itu juga tertahan oleh TV yang jatuh tertimpa gypsum,  juga puing-puing qypsum yang mulai banyak. Saya pun sedikit mengeluarkan tenaga untuk memaksa pintu itu mendorong TV dan tumpukan puing gypsum. 2 orang ART saya sudah menunggu dengan panik di depan kamar, dan mengucap "Masya Allah" ketika melihat bentuk kamar itu.

Sekarang, coba liat foto yang ada di kiri atas artikel ini. Itu adalah satu dari beberapa foto yang saya ambil beberapa saat setelah kejadian. Bayangkan ya, posisi tidur saya berada di sebelah kiri kasur, yg dekat ke lantai dan lemari. Dengan posisi kepala disebelah kiri gambar, persis dibagian potongan gypsum yang berwarna putih itu.Kondisi seperti foto itu pun sudah agak mendingan. Karna beberapa puing sudah diangkat oleh supir nenek saya yang langsung saya telpon segera setelah kejadian.

Pertanyaannya, menurut Anda semua, kira-kira luka seperti apa yang saya alami? Ketika Anda belum bisa berfikir jernih sesaat setelah bangun tidur, kondisi pintu terkunci, gelap, dan badan Anda tepat berada dibawah ukiran tempat lampu yang mungkin beratnya mencapai 15kg lebih??? Dan semua serpihan itu jatuh dengan sempurna memenuhi kamar yang sekilas tampak seperti bangunan habis kena gempa, ketika saya masih didalamnya.

Ajaib. Saya tidak mengalami luka apapun. Hanya lecet sedikit di jari kelingking tangan kanan, dan rambut serta baju yang dipenuhi serbuk runtuhan gypsum. Ketika kembali melihat keadaaan kamar dan juga foto-foto yang saya ambil, saya tidak habis berpikir bagaimana caranya saya bisa tidak terluka sedikitpun.

Oke. Pertanyaannya adalah begini. Dan ini juga yang masih saya pikirkan sampai saya menulis artikel ini. Bagaimana jika ibu dan bapak saya yang sedang tidur disitu?? Dan yang lebih seram, bagaimana jika Kaesar Ali Rasyidi, anak saya yang masih berumur 3 minggu, sedang ditidurkan disitu (yang sebelumnya sangat sering sekali)?? 

Saya termasuk orang yang susah sekali dibangunin. Jangankan suara, sentuhan orang-orang yang membangunkan saya saja belum tentu berhasil. Lalu kenapa saya bisa terbangun tepat pada waktunya, hingga bisa sedikit membalikan badan untuk melindungi wajah dan kemudian langsung melompat?? Dan yang terakhir, kenapa saya bisa tidak terluka sama sekali, padahal kata supir nenek saya ada yang meninggal karna kejadian yang sama??

Mungkin hampir semua orang pernah mengalami kejadian yang membuat mereka berkata..."untung aja bla..bla...", "Coba kalau..bla..bla..", yang seakan-akan menunjukan sebuah kebetulan atau keberuntungan.

Tapi dengan pengalaman dan ilmu yang saya pelajari, saya yakin "bahkan tidak ada sepucuk daun pun yang jatuh tidak atas ijin - Nya"

Think...

Selasa, 03 Juli 2012

Tidak Mungkin Membuat Semuanya Senang

Ada hal yang cukup unik di dunia ini. Mungkin beberapa orang, termasuk saya dulu, mencoba untuk membuat semua orang senang sama kita. Namun, semakin kesini, sepertinya pandangan itu mulai berubah. Ini bukan berkaitan dengan bahwa kita harus berbuat baik ke semua orang. Kalau itu, mutlak. Namun lebih ke bahwa kita tidak bisa membuat keputusan yang menyenangkan semua orang.

Kenyataan ini mulai terpikirkan ketika saya menghadiri launching buku pengusaha nasional yang berada di daftar orang terkaya di Indonesia, Pak Chairul Tanjung (CT). Betapa saya mengagumi sosok pengusaha yang satu ini. Dan merupakan kesempatan emas bagi saya untuk bisa bertatap muka langsung dengan beliau. Karena, mungkin jalan menjadi pengusaha sedang saya jalani saat ini. Dan saya mengalami betul betapa dahsyatnya "peperangan" untuk hidup di dunia usaha. Sehingga saya ingin sekali mendengar kisah dan pemikiran CT dalam membangun bisnisnya.

Walaupun sudah banyak buku tentang kisah sukses beliau yang saya baca, namun kesempatan ini tetap tak bisa dilewatkan. Acara pun selesai. Buku "Chairul Tanjung si Anak Singkong" pun sudah ditandatangani lengkap dengan kalimat penyemangat buat saya di bagian depan. Ketika datang giliran saya book signing, saya duduk disamping beliau, dan bertanya." Pak, apa setiap pengusaha kalau mau besar harus terlibat di proyek pemerintah?"..Pak CT yang saat itu sedang menulis sesuatu di buku saya pun kemudian terdiam, dan mengalihkan mukanya menatap saya. Diam sejenak dan kemudian berkata, "Gak harus,Mas".

Banyak selentingan yang muncul ketika acara itu berlangsung. Ada yang bilang, "Wah, CT pasti mau nyalon jadi RI-1 nih, makanya buat buku". Memang, membuat buku otobiography lumrah dilakukan bagi tokoh yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah ataupun presiden. Saya sendiri sangat membenci pengusaha yang kemudian masuk ke dunia politik. Biarpun begitu, saya tetap harus melihat dari kesuksesannya sebagai pebisnis.

Pulang ke rumah setelah itu, saya membaca time line twitter salah seorang karyawan yang dipecat dari Trans TV. Isi time line itu menunjukan pandangan dia bahwa CT merupakan seorang kapitalis yang tidak punya hati nurani. ketika media online men-tweet: "1 orang CT bisa mempekerjakan 1000 karyawan", dia pun membalas, "1 CT bisa memecat 45 karyawan tanpa sebab"...sampe tulisan akhirnya berbunyi " Lost respect, boss"

Seketika kekaguman saya terhadap seorang CT pun terganggu. Namun setelah saya amati, memang dunia selalu seperti ini. Ternyata, bahkan tokoh sehebat apapun tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita masih ingat ketika BJ Habibie yang segitu cerdasnya masih dihujat massa karna dianggap tetap saja antek soeharto. Atau ketika sudono saliem (Om Liem) yang meninggal dunia, muncul artikel yang menerangkan Om Liem telah mengubah mentalitas bangsa Indonesia seperti Indomie, yaitu mental instan. Dahlan iskan yang melakukan gebrakan ekstrem demi rakyat pun masih juga dicibir sebagai pencitraan menuju RI-1 2014 nanti.

Sandiaga Uno yang memang terkenal sebagai pengusaha muda yang agamis pun tak luput jadi perbincangan di twitter mengenai keterlibatan beliau di kasus korupsi tertentu. Dan masih banyak lagi contoh nyata tentang tokoh-tokoh lainnya.

Akhirnya saya menyadari, mungkin semua itu memang benar terjadi. Mungkin memang seperti itu perasaan orang-orang yang berkomentar negatif. Namun saya tetap harus melihat dari sisi yang lebih besar. Tentunya saya lebih melihat bagaimana mereka bisa membantu negara mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan ratusan ribu karyawan, walaupun mungkin harus memecat beberapa puluh karyawan. Menyetor pajak segitu besarnya ke negara, walaupun pun mungkin dianggap mematikan beberapa usaha kecil. Membawa brand produk Indonesia ke mancanegara,walaupun hanya sebuah makanan instan. Dan membuat Tol menjadi lancar seketika,walaupun membuat rugi instansi terkait.

Dan, yang saya amati, benang merah tokoh itu yang membuat mereka tetap maju adalah, bahwa mereka punya pendirian. Tidak mendengarkan kata semua orang. Selama mereka yakin sama yang mereka kerjakan itu baik. Dan pada akhirnya, mereka berkata, "Cukup Tuhan yang tau isi hati saya"

wallahu alam.....

Kamis, 12 Januari 2012

Pengusaha itu gak harus pintar

Masih ingat dengan salah satu sahabat saya yang saya ceritakan pada posting saya sebelumnya, yang sebelumnya bekerja di LawFirm dan kemudian resign. Ada sedikit cerita menarik tentang si sahabat yang sepertinya seru untuk diceritakan. Kita sebut saja namanya A. Sesaat sebelum si A resign, dia datang kepada saya dan menceritakan cerita ini. Dan cerita inilah yang kemudian mengubah pemikiran dia untuk berani terjun membuat bisnis sendiri.

Saat itu, si A mendatangi rumah saya. Dan bercerita pengalamannya menghadiri pertemuan dengan klien LawFirmnya di daerah lampung. Sang klien adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak peternakan dan bisnis lainnya. Saat itu, sang klien memiliki permasalahan dalam hal yang berkaitan dengan hukum, sehingga si klien itu membayar kantor LawFirm sahabat saya tersebut.

Mulailah si A bercerita, " Gila rid, rumahnya mewah banget. Banyak hewan ternak, mobil, dan segala fasilitas mewah lainnya. Yang bikin gw bingung, kok masalah hukum sesepele ini dia ga ngerti dan harus ngebayar kita. Disitu gw mikir rid, kenapa gw gak jadi si orang itu, yang tinggal bayar lawfirm untuk menyelesaikan masalah hukum dia? kenapa gw harus jadi orang yang dia bayar itu? padahal secara ilmu hukum, gw yakin gw lebih pinter dari dia. tapi kok keliatannya dia kaya dan sukses banget ya"

Bagi sebagian orang, menjadi orang pintar dengan pendidikan yang sangat tinggi adalah hal yang sangat penting. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika kita berniat untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya HANYA UNTUK MENDAPATKAN PEKERJAAN DENGAN GAJI YANG TINGGI. Coba kita ingat-ingat lagi, dan memang inilah budaya bangsa ini yang masih kental, bahwa ketika kita sekolah, dan mengambil jurusan kuliah, pasti pertimbangan utamanya adalah jurusan yang gampang nyari kerja dan dibayar dengan gaji tinggi.

Lalu bagaimana dengan si klien yang kaya raya itu. Dia cukup mempunyai keberanian, visi yang jauh, dan strategy untuk menjalankan bisnisnya. Dan selanjutnya, dia tinggal membayar orang-orang profesional yang ahli dibidangnya masing-masing, untuk mempermudah bisnisnya itu.

Terkesan tidak adil memang. Tapi itulah kenyataan. Kebanyakan orang pintar tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko dan meninggalkan zona nyaman. Itu mengapa mereka biasanya hanya selalu berlindung dibalik langkah orang lain. Tapi, sebagaimana konsep investasi, high risk high return, ya si profesional itu juga tidak mendapatkan sebesar si risk taker.

Bukan rahasia umum lagi jika beberapa orang terkaya di dunia bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya. Bukan bermaksud mengecilkan fungsi pendidikan. Pendidikan tetap sangat penting. Tapi bagaimana akhirnya menggunakan pendidikan itu lah yang lebih penting.

Bravo..

Selasa, 10 Januari 2012

Ayo Hidup Mandiri.....!!!!!

Disuatu malam menjelang pagi di tahun 2009, terjadi perbincangan hangat antara saya, dan 3 orang sahabat. Ketika itu, kita semua masih berstatus karyawan pada perusahaan kita masing-masing. Namun bedanya, saat itu saya sudah berpikir untuk resign dan segera hidup mandiri membangun bisnis. Namun, kedua sahabat saya sangat menentang pemikiran saya. Dan satu lagi bersifat netral. Perbincangan dan debat menjadi panas dan bertensi tinggi.

kedua sahabat saya itu berpikir, untuk menjadi kaya, bebas financial, dan bahagia tidak harus menjadi pebisnis, dan bisa dilakukan dengan bekerja di perusahaan orang lain. Bahkan mereka sangat mempertanyakan pemikiran saya dan bertanya, "Emang kenapa sih klo jadi karyawan, gw bisa kok bahagia dengan jadi karyawan. Lagian, sama aja lah..klo lo kerja bagus juga lo bisa di naikin karir dan gaji lo", cetus salah satu dari dua sahabat yang kontra sama saya.

Saya pun mencoba menjelaskan beberapa poin mengenai pemikiran saya, bahwa memang sebaiknya kita hidup mandiri. Saya mengemukakan beberapa poin dibawah ini kepada mereka :

1. Kenapa sebagian besar karyawan tidak menyukai ketika besok harus masuk kerja? lalu untuk apa mereka melakukan semua itu? Untuk uang kah, yang hanya dibayar sebulan sekali, dengan mengorbankan ketidaksukaan selama 29 hari??

2. Taukah Anda, untuk menaikan posisi dan gaji karyawan, top management harus rapat berjam-jam dan adu argumentasi?? Apakah kondisi ini menggambarkan bahwa nasib Anda berada di tangan Anda sendiri??

3.Taukah Anda, alur perpindahan uang dari karyawan ke pengusaha terjadi dalam 29 hari, dan alur dari pengusaha ke karyawan hanya terjadi di 1 hari? (Coba renungkan maknanya..hehe)

Dan ada beberapa poin lagi yang saya jelaskan ke kedua sahabat saya, yang tentu saja tetap mereka bantah. Si sahabat yang pertama saat itu bekerja di lawfirm, dan sahabat yang satu lagi bekerja di perusahaan multicompany. Sedangkan si netral bekerja di oil company.

Dalam pemikiran saya, ini bukan hanya masalah bagaimana cara untuk kaya. Memang ada poin pada hal itu. Namun tidak hanya itu. Ini masalah kemandirian hidup. Dimana kita bisa melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Membuka lapangan pekerjaan bagi orang banyak. Menentukan sendiri target penghasilan, keuntungan, dan strategy-strategy yang akan dijalankan. Tidak hanya menjadi "pembantu" dalam rencana orang lain.

Mungkin seorang yang hidup mandiri (berbisnis) akan berpikir dalam 24 jam sehari. Akan bekerja lebih keras dari seorang karyawan yang hanya kerja dari jam 8 - 17. Tapi kendali waktu ada ditangan mereka. Mereka lah yang menentukan jadwal kegiatan mereka sendiri. Apalagi, ketika sudah maju, pebisnis itu akan membangun sistem yang bisa membuat bisnis nya jalan sendiri tanpa keterlibatan penuh pemiliknya.

Apalagi, bagi kaum muda yang seharusnya penuh dengan ambisi, ide ide kreatif, dan mimpi-mimpi besar, sangat disayangkan jika hanya menghabiskan sebagian besar waktunya menjalankan rencana orang lain.

Oh iya, bagaimana dengan kisah perdebatan kami ber 4 tadi ?? Si sahabat yang pertama telah resign dari lawfirmnya dan mendirikan bisnis dibidang music. Si sahabat yang kedua juga resign dari jabatannya sebagai section head di multicompany tersebut dan bergabung dengan salah satu bisnis saya. Dan si netral tetap bekerja di oil company nya.. :)

ciaaoo