Selasa, 15 April 2014

Ternyata Imajinasi Juga Punya Suara

Pernah mendengar suara sebuah imajinasi? Mungkin beberapa orang pernah mengalami kejadian seperti ini, baik disadari atau tidak. Imajinasi adalah sebuah khalayan, yang terjadi hanya di dalam otak, dan biasanya terjadi ketika kita sedang "hidup" atau tidak tidur. Saat-saat orang berimajinasi pun rata-rata hampir serupa. Yaitu ketika sedang sendirian, tidak ada kerjaan, atau melihat sebuah trigger lalu kemudian berimajinasi. Bahkan, beberapa pendapat mengemukakan pernyataan yang sama, yaitu saat yang paling baik untuk berimajinasi adalah ketika mengendari kendaraan sendirian (mobil atau motor), dan ketika buang air besar. Katanya, biasanya dalam 2 kondisi tersebut ide sering muncul, dan alam bawah sadar sedang bagus-bagusnya. Walaupun mungkin belum ada bukti ilmiah atas hal ini.

Kejadian ini terjadi di pertengahan April 2014 ketika saya menyetir mobil sendirian untuk pulang ke rumah. Saya memang termasuk orang yang sangat-sangat senang berimajinasi, bermimpi, berkhayal, dan sejenisnya. Pekerjaan saya sebagai wirausaha yang sedang merintis membangun perusahaan mengharuskan saya untuk terus bermimpi, meyakininya, mengusahakannya, dan membuktikannya. 

Dalam perjalanan pulang dari Pondok Indah Mall menuju arah Permata Hijau, saya tiba-tiba membayangkan Rasyidi Consultant berkembang pesat. Memiliki banyak karyawan yang mengharuskan pindah kantor ke gedung sendiri yang bertuliskan "Rasyidi Building". Pada kesempatan tersebut saya memberikan sebuah speech/pidato kepada seluruh tim saya, bagaimana perjuangan Rasyidi Consultant hingga bisa saat ini, dan meminta mereka terus menjaga dan mengembangkannya. Begitu mengharukannya sampai bulu-bulu ditangan saya berdiri, dan tanpa saya sadari saya menekan tombol "Mute" pada radio mobil saya.

Selang 2-3 menit imajinasi itu berlangsung akhirnya dibuyarkan oleh mobil sebelah yang mendadak menyalip ke depan mobil saya, sehingga saya harus kembali ke alam sadar. Dan saya cukup kaget melihat posisi radio dalam kondisi "Mute". Biasanya, saya melakukan itu ketika menerima telpon, sedang berbicara dengan orang disebelah saya, dan sebab-sebab logis lainnya.

Ternyata suara pidato imajinasi saya itu "cukup besar" hingga saya harus mengecilkan suara radio. Besar dan nyata di kuping saya saat itu. Semoga semua itu jadi kenyataan. 

"Imajinasi lebih berguna dari ilmu pengetahuan"- Albert Einstein -

Rabu, 13 Maret 2013

BUDAYA, ADAT & ERA TELEKOMUNIKASI 1

PESTA DATUK - Seminggu kemarin gw berada di Bukittinggi, Sumatra Barat, untuk menjalani sesuatu yang gak pernah gw bayangin sebelumnya. Gw diangkat jadi DATUK. Dalam adat minang, seorang kakek (ayah dari ibu atau bapak kita) biasa dipanggil Datuk. Namun Datuk yang ini berbeda, Datuk yang ini adalah sebutan pagi pemimpin adat. Gw sendiri bingung mau jelasin kaya gimana, tapi bagi Anda yang warga minang atau keturunan minang, pasti mengerti dengan adat istiadat dan aturan main ini.

Singkat nya, di Bukittinggi ada beberapa suku. Gw mewakili suku keluarga gw, yaitu suku Jambak. Nah, ceritanya gw diangkat menjadi Kepala Suku Jambak. Apa fungsinya? Katanya sih, sebagai penjaga kesatuan anggotan keluarga besar, memecahkan kalau ada permasalahan, tempat mengadu dan bercerita, dan hal - hal yang berkaitan dengan hubungan antar masyarakat lainnya. Tapi bukan itu poin nya. Poin nya adalah gw menemukan beberapa hal "hebat" dan "unik" yang gw baru tau.

WARISAN ASLI & WARISAN HARTA PUSAKA TINGGI

Di ajaran islam, waris sudah diatur sedemikian detailnya. Laki-laki dapat 2 bagian, sementara perempuan 1 bagian. Tapi itu untuk harta yang diperoleh oleh si bapak dan si ibu. Lain dengan Harta yang diturunkan dari nenek moyang generasi ke generasi, yang oleh orang minang disebut dengan Harta Pusaka Tinggi. Disini anak perempuan lah yang punya kuasa. Tidak boleh dijual. Kecuali, jika kondisi benar-benar susah, dan tidak ada harta lain, maka boleh dijual setelah ada kesepakatan antar anggota keluarga lainnya. Nah, Jadi, selama gw di bukittinggi kita sekeluarga tinggal di rumah harta pusaka tinggi itu.

Ada cerita unik dari om gw yang mau beli tanah di daerah padang by pass. Proses nya agak lama, karena notaris sendiri pun menyarankan untuk mengumpulkan ke 20 orang hak waris atas tanah pusaka tinggi yang akan dijual itu. Kalau satu aja dari 20 orang itu tidak setuju, tidak akan pernah berpindah kepemilikan tanah itu.

Jadi ketika gw tanya ke nenek gw di dalam perjalanan dari bandara ke rumah di buktinggi tentang NJOP tanah disitu, nenek gw bilang gak tau. Karena tanah itu gak pernah bisa dijual. Lucu ya. Gw sempet berdebat sama nenek gw. Gw bilang "Tanah gak boleh dijual, investor ga boleh masuk, tapi anak mudannya pada merantau semua.. Trus yang ngebangun kota ini siapa? (hehehehe)

bersambung...

Minggu, 03 Maret 2013

Hati-Hati Dengan Demam Entrepreneur

Dear All,

Ada satu hal yang mengusik pikiran dan perasaan saya akhir-akhir ini. Tentang "booming"nya demam entrepreneur di bangsa ini. Lho, bukannya itu baik?? iya, baik..sangat baik. Tapi ada sedikit hal yang mengganggu. Apa itu? Yaitu, dimana saat ini, semua orang dengan mudahnya bicara tentang entrepreneur. Ditambah dengan merebaknya sosial media saat ini, semua orang tiba-tiba muncul menjadi "mentor" bisnis, memberikan tips-tips, memberikan seminar tentang bisnis, dan lain semacamnya. Biasanya, semua dimulai di sosial media. Ketika sudah mendapatkan "market" yang tepat, barulah dibuatkan acara off airnya. Dengan tema-tema yang berbau bisnis, siapa yang tidak tergiur saat ini

Tidak ada yang salah dengan itu memang. Masalahnya, apakah mereka yang berbicara tentang bisnis itu, memang pernah benar-benar mendirikan, menjalankan, dan mengembankan sebuah bisnis? Atau mereka hanya mengatakan apa yang mereka "pernah baca", "pernah dengar", atau "pernah tau"?

Seorang MOTIVATOR memiliki bisnis karena mereka punya ribuan orang yang setia datang ke seminar motivasinya, dan kemudian meminta "branding" untuk bisnisnya dengan si motivator yang terkenal. Apa dia berarti punya ilmu bisnis?

Bahkan ada yang terang-terang mengaku sebagai "mentor bisnis" namun tidak punya bisnis satupun, kecuali bisnis " sekolah bisnis" nya itu sendiri. Aneh...Saya pun sempat bingung dengan kondisi seperti ini. Takut saya salah dalam mengambil ilmu. Sampai pada akhirnya,sahabat saya yang juga pemenang Wirauaha Muda Mandiri yang berbisnis property pernah mengingatkan saya, "Hati-Hati rid. Bisnis emang butuh mentor. Tapi jangan sampe salah pilih mentor. Seorang pebisnis sejati, pasti bisnisnya juga terkenal. Bukan hanya sekedar nama dia nya aja. Dan satu lagi, ketika seorang pebisnis sejati diundang untuk berbagi, dia hanya akan menceritakan pengalamannya dalam membangun bisnis. Dan jarang sekali yang "meminta fee" atas ceritanya itu. Lain dengan motivator-motivator yang memang dibayar untuk ngomong".

Dan saya pun punya teori sendiri yang saya amati. Seorang pebisnis sejati, selalu punya Buku (biography/kisah sukses) yang ditulis orang lain. Sedangkan motivator atau profesi lain nya itu juga punya buku, namun ditulis oleh dirinya sendiri...:)

wassalam

Senin, 10 September 2012

Sebuah Keajaiban, atau hanya kebetulan??

Hari ini saya mengalami kejadian yang sangat menyeramkan, aneh, sekaligus menakjubkan. Begini ceritanya. Awal tahun 2012 yang lalu kami pindah rumah, walau hanya beda gang. Orang tua kami berpikir keluarga sudah semakin besar, sehingga rumah yang lama sudah tidak muat jika semua anak-anaknya berkumpul. Rumah ini tergolong unik desainnya. Beberapa ukiran seperti pada pondasi di balkon atas, dan ukiran untuk tempat bergantungnya lampu. Semua eternit memakai gypsum sebagai bahannya.

Dirumah ini tinggal orang tua saya, adik-adik saya, beserta istri dan anak saya (masih numpang ortu nih...hehe). Hari kamis kemarin (6/9/12), ibu, bapak, dan dua orang adik saya pergi ke padang. Ada kawinan saudara disana. Sehingga, dirumah ini tinggal saya, istri, bayi kami yang masih berumur 3 minggu, dan 2 orang ART. Oh iya, ada ibu mertua juga yang nemenin istri disini. Tapi sejak hari sabtu kemarin, istri dan ibu mertua kembali ke rumah mertua, karna ada kondangan. Jadilah tinggal saya dan dua orang ART.

Biasanya saya tidur di kamar atas, tapi karena tidak ada orang, sekalian buat jaga-jaga, saya tidur di kamar orang tua di lantai bawah. Nah, disinilah segala sesuatunya dimulai. Di malam harinya, saya melihat eternit di kamar orang tua saya ada retakan cukup jelas. Tapi saya pikir itu retakan sudah dari lama, sehingga tidak terlalu saya pedulikan. Dan terlelaplah saya pada pukul 02.30.

Lalu, pada pukul 07.00 saya dibangunkan dengan cara yang sangat tidak enak. Seketika terdengar retakan hebat, dan tubuh saya merasakan ada benda benda berjatuhan kecil. Ketika saya membuka mata karna terganggu oleh suara seram dan serpihan gypsum, ukiran gypsum tempat bergantung lampu sudah mulai terlepas. Gelap. Lampu padam karna ikut jatuh. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Yang saya lakukan saat itu hanya berteriak keras dan melompat dari tempat tidur. Pintu yang saya kunci dari dalam cukup membuat sedikit panik karna harus meraba letak kunci dan membukanya. Selain itu, pintu yang arah bukanya kedalam itu juga tertahan oleh TV yang jatuh tertimpa gypsum,  juga puing-puing qypsum yang mulai banyak. Saya pun sedikit mengeluarkan tenaga untuk memaksa pintu itu mendorong TV dan tumpukan puing gypsum. 2 orang ART saya sudah menunggu dengan panik di depan kamar, dan mengucap "Masya Allah" ketika melihat bentuk kamar itu.

Sekarang, coba liat foto yang ada di kiri atas artikel ini. Itu adalah satu dari beberapa foto yang saya ambil beberapa saat setelah kejadian. Bayangkan ya, posisi tidur saya berada di sebelah kiri kasur, yg dekat ke lantai dan lemari. Dengan posisi kepala disebelah kiri gambar, persis dibagian potongan gypsum yang berwarna putih itu.Kondisi seperti foto itu pun sudah agak mendingan. Karna beberapa puing sudah diangkat oleh supir nenek saya yang langsung saya telpon segera setelah kejadian.

Pertanyaannya, menurut Anda semua, kira-kira luka seperti apa yang saya alami? Ketika Anda belum bisa berfikir jernih sesaat setelah bangun tidur, kondisi pintu terkunci, gelap, dan badan Anda tepat berada dibawah ukiran tempat lampu yang mungkin beratnya mencapai 15kg lebih??? Dan semua serpihan itu jatuh dengan sempurna memenuhi kamar yang sekilas tampak seperti bangunan habis kena gempa, ketika saya masih didalamnya.

Ajaib. Saya tidak mengalami luka apapun. Hanya lecet sedikit di jari kelingking tangan kanan, dan rambut serta baju yang dipenuhi serbuk runtuhan gypsum. Ketika kembali melihat keadaaan kamar dan juga foto-foto yang saya ambil, saya tidak habis berpikir bagaimana caranya saya bisa tidak terluka sedikitpun.

Oke. Pertanyaannya adalah begini. Dan ini juga yang masih saya pikirkan sampai saya menulis artikel ini. Bagaimana jika ibu dan bapak saya yang sedang tidur disitu?? Dan yang lebih seram, bagaimana jika Kaesar Ali Rasyidi, anak saya yang masih berumur 3 minggu, sedang ditidurkan disitu (yang sebelumnya sangat sering sekali)?? 

Saya termasuk orang yang susah sekali dibangunin. Jangankan suara, sentuhan orang-orang yang membangunkan saya saja belum tentu berhasil. Lalu kenapa saya bisa terbangun tepat pada waktunya, hingga bisa sedikit membalikan badan untuk melindungi wajah dan kemudian langsung melompat?? Dan yang terakhir, kenapa saya bisa tidak terluka sama sekali, padahal kata supir nenek saya ada yang meninggal karna kejadian yang sama??

Mungkin hampir semua orang pernah mengalami kejadian yang membuat mereka berkata..."untung aja bla..bla...", "Coba kalau..bla..bla..", yang seakan-akan menunjukan sebuah kebetulan atau keberuntungan.

Tapi dengan pengalaman dan ilmu yang saya pelajari, saya yakin "bahkan tidak ada sepucuk daun pun yang jatuh tidak atas ijin - Nya"

Think...

Selasa, 03 Juli 2012

Tidak Mungkin Membuat Semuanya Senang

Ada hal yang cukup unik di dunia ini. Mungkin beberapa orang, termasuk saya dulu, mencoba untuk membuat semua orang senang sama kita. Namun, semakin kesini, sepertinya pandangan itu mulai berubah. Ini bukan berkaitan dengan bahwa kita harus berbuat baik ke semua orang. Kalau itu, mutlak. Namun lebih ke bahwa kita tidak bisa membuat keputusan yang menyenangkan semua orang.

Kenyataan ini mulai terpikirkan ketika saya menghadiri launching buku pengusaha nasional yang berada di daftar orang terkaya di Indonesia, Pak Chairul Tanjung (CT). Betapa saya mengagumi sosok pengusaha yang satu ini. Dan merupakan kesempatan emas bagi saya untuk bisa bertatap muka langsung dengan beliau. Karena, mungkin jalan menjadi pengusaha sedang saya jalani saat ini. Dan saya mengalami betul betapa dahsyatnya "peperangan" untuk hidup di dunia usaha. Sehingga saya ingin sekali mendengar kisah dan pemikiran CT dalam membangun bisnisnya.

Walaupun sudah banyak buku tentang kisah sukses beliau yang saya baca, namun kesempatan ini tetap tak bisa dilewatkan. Acara pun selesai. Buku "Chairul Tanjung si Anak Singkong" pun sudah ditandatangani lengkap dengan kalimat penyemangat buat saya di bagian depan. Ketika datang giliran saya book signing, saya duduk disamping beliau, dan bertanya." Pak, apa setiap pengusaha kalau mau besar harus terlibat di proyek pemerintah?"..Pak CT yang saat itu sedang menulis sesuatu di buku saya pun kemudian terdiam, dan mengalihkan mukanya menatap saya. Diam sejenak dan kemudian berkata, "Gak harus,Mas".

Banyak selentingan yang muncul ketika acara itu berlangsung. Ada yang bilang, "Wah, CT pasti mau nyalon jadi RI-1 nih, makanya buat buku". Memang, membuat buku otobiography lumrah dilakukan bagi tokoh yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah ataupun presiden. Saya sendiri sangat membenci pengusaha yang kemudian masuk ke dunia politik. Biarpun begitu, saya tetap harus melihat dari kesuksesannya sebagai pebisnis.

Pulang ke rumah setelah itu, saya membaca time line twitter salah seorang karyawan yang dipecat dari Trans TV. Isi time line itu menunjukan pandangan dia bahwa CT merupakan seorang kapitalis yang tidak punya hati nurani. ketika media online men-tweet: "1 orang CT bisa mempekerjakan 1000 karyawan", dia pun membalas, "1 CT bisa memecat 45 karyawan tanpa sebab"...sampe tulisan akhirnya berbunyi " Lost respect, boss"

Seketika kekaguman saya terhadap seorang CT pun terganggu. Namun setelah saya amati, memang dunia selalu seperti ini. Ternyata, bahkan tokoh sehebat apapun tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita masih ingat ketika BJ Habibie yang segitu cerdasnya masih dihujat massa karna dianggap tetap saja antek soeharto. Atau ketika sudono saliem (Om Liem) yang meninggal dunia, muncul artikel yang menerangkan Om Liem telah mengubah mentalitas bangsa Indonesia seperti Indomie, yaitu mental instan. Dahlan iskan yang melakukan gebrakan ekstrem demi rakyat pun masih juga dicibir sebagai pencitraan menuju RI-1 2014 nanti.

Sandiaga Uno yang memang terkenal sebagai pengusaha muda yang agamis pun tak luput jadi perbincangan di twitter mengenai keterlibatan beliau di kasus korupsi tertentu. Dan masih banyak lagi contoh nyata tentang tokoh-tokoh lainnya.

Akhirnya saya menyadari, mungkin semua itu memang benar terjadi. Mungkin memang seperti itu perasaan orang-orang yang berkomentar negatif. Namun saya tetap harus melihat dari sisi yang lebih besar. Tentunya saya lebih melihat bagaimana mereka bisa membantu negara mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan ratusan ribu karyawan, walaupun mungkin harus memecat beberapa puluh karyawan. Menyetor pajak segitu besarnya ke negara, walaupun pun mungkin dianggap mematikan beberapa usaha kecil. Membawa brand produk Indonesia ke mancanegara,walaupun hanya sebuah makanan instan. Dan membuat Tol menjadi lancar seketika,walaupun membuat rugi instansi terkait.

Dan, yang saya amati, benang merah tokoh itu yang membuat mereka tetap maju adalah, bahwa mereka punya pendirian. Tidak mendengarkan kata semua orang. Selama mereka yakin sama yang mereka kerjakan itu baik. Dan pada akhirnya, mereka berkata, "Cukup Tuhan yang tau isi hati saya"

wallahu alam.....

Kamis, 12 Januari 2012

Pengusaha itu gak harus pintar

Masih ingat dengan salah satu sahabat saya yang saya ceritakan pada posting saya sebelumnya, yang sebelumnya bekerja di LawFirm dan kemudian resign. Ada sedikit cerita menarik tentang si sahabat yang sepertinya seru untuk diceritakan. Kita sebut saja namanya A. Sesaat sebelum si A resign, dia datang kepada saya dan menceritakan cerita ini. Dan cerita inilah yang kemudian mengubah pemikiran dia untuk berani terjun membuat bisnis sendiri.

Saat itu, si A mendatangi rumah saya. Dan bercerita pengalamannya menghadiri pertemuan dengan klien LawFirmnya di daerah lampung. Sang klien adalah seorang pengusaha yang memiliki banyak peternakan dan bisnis lainnya. Saat itu, sang klien memiliki permasalahan dalam hal yang berkaitan dengan hukum, sehingga si klien itu membayar kantor LawFirm sahabat saya tersebut.

Mulailah si A bercerita, " Gila rid, rumahnya mewah banget. Banyak hewan ternak, mobil, dan segala fasilitas mewah lainnya. Yang bikin gw bingung, kok masalah hukum sesepele ini dia ga ngerti dan harus ngebayar kita. Disitu gw mikir rid, kenapa gw gak jadi si orang itu, yang tinggal bayar lawfirm untuk menyelesaikan masalah hukum dia? kenapa gw harus jadi orang yang dia bayar itu? padahal secara ilmu hukum, gw yakin gw lebih pinter dari dia. tapi kok keliatannya dia kaya dan sukses banget ya"

Bagi sebagian orang, menjadi orang pintar dengan pendidikan yang sangat tinggi adalah hal yang sangat penting. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika kita berniat untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya HANYA UNTUK MENDAPATKAN PEKERJAAN DENGAN GAJI YANG TINGGI. Coba kita ingat-ingat lagi, dan memang inilah budaya bangsa ini yang masih kental, bahwa ketika kita sekolah, dan mengambil jurusan kuliah, pasti pertimbangan utamanya adalah jurusan yang gampang nyari kerja dan dibayar dengan gaji tinggi.

Lalu bagaimana dengan si klien yang kaya raya itu. Dia cukup mempunyai keberanian, visi yang jauh, dan strategy untuk menjalankan bisnisnya. Dan selanjutnya, dia tinggal membayar orang-orang profesional yang ahli dibidangnya masing-masing, untuk mempermudah bisnisnya itu.

Terkesan tidak adil memang. Tapi itulah kenyataan. Kebanyakan orang pintar tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko dan meninggalkan zona nyaman. Itu mengapa mereka biasanya hanya selalu berlindung dibalik langkah orang lain. Tapi, sebagaimana konsep investasi, high risk high return, ya si profesional itu juga tidak mendapatkan sebesar si risk taker.

Bukan rahasia umum lagi jika beberapa orang terkaya di dunia bahkan tidak menyelesaikan pendidikannya. Bukan bermaksud mengecilkan fungsi pendidikan. Pendidikan tetap sangat penting. Tapi bagaimana akhirnya menggunakan pendidikan itu lah yang lebih penting.

Bravo..

Selasa, 10 Januari 2012

Ayo Hidup Mandiri.....!!!!!

Disuatu malam menjelang pagi di tahun 2009, terjadi perbincangan hangat antara saya, dan 3 orang sahabat. Ketika itu, kita semua masih berstatus karyawan pada perusahaan kita masing-masing. Namun bedanya, saat itu saya sudah berpikir untuk resign dan segera hidup mandiri membangun bisnis. Namun, kedua sahabat saya sangat menentang pemikiran saya. Dan satu lagi bersifat netral. Perbincangan dan debat menjadi panas dan bertensi tinggi.

kedua sahabat saya itu berpikir, untuk menjadi kaya, bebas financial, dan bahagia tidak harus menjadi pebisnis, dan bisa dilakukan dengan bekerja di perusahaan orang lain. Bahkan mereka sangat mempertanyakan pemikiran saya dan bertanya, "Emang kenapa sih klo jadi karyawan, gw bisa kok bahagia dengan jadi karyawan. Lagian, sama aja lah..klo lo kerja bagus juga lo bisa di naikin karir dan gaji lo", cetus salah satu dari dua sahabat yang kontra sama saya.

Saya pun mencoba menjelaskan beberapa poin mengenai pemikiran saya, bahwa memang sebaiknya kita hidup mandiri. Saya mengemukakan beberapa poin dibawah ini kepada mereka :

1. Kenapa sebagian besar karyawan tidak menyukai ketika besok harus masuk kerja? lalu untuk apa mereka melakukan semua itu? Untuk uang kah, yang hanya dibayar sebulan sekali, dengan mengorbankan ketidaksukaan selama 29 hari??

2. Taukah Anda, untuk menaikan posisi dan gaji karyawan, top management harus rapat berjam-jam dan adu argumentasi?? Apakah kondisi ini menggambarkan bahwa nasib Anda berada di tangan Anda sendiri??

3.Taukah Anda, alur perpindahan uang dari karyawan ke pengusaha terjadi dalam 29 hari, dan alur dari pengusaha ke karyawan hanya terjadi di 1 hari? (Coba renungkan maknanya..hehe)

Dan ada beberapa poin lagi yang saya jelaskan ke kedua sahabat saya, yang tentu saja tetap mereka bantah. Si sahabat yang pertama saat itu bekerja di lawfirm, dan sahabat yang satu lagi bekerja di perusahaan multicompany. Sedangkan si netral bekerja di oil company.

Dalam pemikiran saya, ini bukan hanya masalah bagaimana cara untuk kaya. Memang ada poin pada hal itu. Namun tidak hanya itu. Ini masalah kemandirian hidup. Dimana kita bisa melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Membuka lapangan pekerjaan bagi orang banyak. Menentukan sendiri target penghasilan, keuntungan, dan strategy-strategy yang akan dijalankan. Tidak hanya menjadi "pembantu" dalam rencana orang lain.

Mungkin seorang yang hidup mandiri (berbisnis) akan berpikir dalam 24 jam sehari. Akan bekerja lebih keras dari seorang karyawan yang hanya kerja dari jam 8 - 17. Tapi kendali waktu ada ditangan mereka. Mereka lah yang menentukan jadwal kegiatan mereka sendiri. Apalagi, ketika sudah maju, pebisnis itu akan membangun sistem yang bisa membuat bisnis nya jalan sendiri tanpa keterlibatan penuh pemiliknya.

Apalagi, bagi kaum muda yang seharusnya penuh dengan ambisi, ide ide kreatif, dan mimpi-mimpi besar, sangat disayangkan jika hanya menghabiskan sebagian besar waktunya menjalankan rencana orang lain.

Oh iya, bagaimana dengan kisah perdebatan kami ber 4 tadi ?? Si sahabat yang pertama telah resign dari lawfirmnya dan mendirikan bisnis dibidang music. Si sahabat yang kedua juga resign dari jabatannya sebagai section head di multicompany tersebut dan bergabung dengan salah satu bisnis saya. Dan si netral tetap bekerja di oil company nya.. :)

ciaaoo